Address
Gedung Sopo Opung
Jl. Raya Kebayoran Lama No.5, RT.3/RW.1, Grogol Utara, Kec. Kby. Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta12210

 

Lampu Menara Masjid: Jadi Ikon Seni Visual Tersendiri

Menara masjid kini telah menjadi bagian utama dari arsitektur masjid selain kubah. Biasanya menara ini ukurannya tinggi dan terletak di bagian pojok kompleks masjid. Karena sudah menjadi kesatuan dengan masjid, adanya lampu menara masjid membuat tempat ibadah umat Islam ini sangat indah di malam hari.

Di zaman dulu, fungsi dari menara masjid adalah sebagai sistem ventilasi bangunan pada cuaca panas. Laiknya kubah masjid, menara pun memiliki jendela kecil di sekelilingnya. Jendela kecil inilah yang berfungsi untuk mengalirkan udara dingin supaya suhu di dalam masjid menjadi lebih sejuk.

Dalam perkembangan zaman, fungsi utama menara masjid pun berubah menjadi tempat diletakkannya pengeras suara dan agar suara azan yang berkumandang di tiap waktu salat bisa didengar luas oleh masyarakat. Selain itu, di berbagai kota menara ini juga berfungsi sebagai menara pandang. Umumnya fungsi ganda ini ada pada masjid-masjid yang dibangun di kota pelabuhan atau tepi sungai.

Sejarah Singkat Arsitektur Menara Masjid

lampu menara masjid

Masjid yang pertama dibangun oleh Nabi Muhammad saw. yakni Masjid Quba di Madinah tidak memiliki menara. Muazin yang akan mengumandangkan azan di waktu itu berdiri di atas atap rumah Rasulullah. Arsitektur dari Masjid Quba tidak mengalami perubahan hingga masa khulafaur rasyidin.

Azan masih dilakukan di ruang kecil di puncak teras masjid dan di tempat umum seperti keluar masuknya orang seperti pintu atau gerbang. Hal ini disebabkan karena di zaman itu belum ada pengeras suara. 

Seiring perkembangan zaman, arsitektur bangunan masjid pun mengalami perubahan. Ini terjadi di masa pemerintahan Khalifah Dinasti Umayyah, Al-Walid I bin Abdul Malik yang memerintah dari tahun 705-715 M. Untuk kali pertama menara dimasukkan ke dalam arsitektur bangunan masjid. 

Sebagai bukti, bisa dilihat dari jejak sejarah yang mendukung hal tersebut. Di masa pemerintahan Al-Walid I merenovasi bekas basilika Santo Johanes untuk dijadikan sebagai masjid agung, sekarang ini dikenal dengan nama Masjid Agung Damaskus. Sebelum dipugar, basilika tersebut telah memiliki dua menara yang berfungsi sebagai penunjuk waktu, di mana lonceng di siang hari sedangkan kerlipan lampu di malam hari.

Ketika pemugaran dilakukan oleh Al-Walid I, kedua menara tersebut tidak turut dipugar. Menara tersebut memiliki arsitektur bizantium yang indah. Justru, di sisi utara halaman masjid, Al-Walid I membangun menara masjid baru tepat di atas gerbang Al-Firdaus (kini dikenal dengan nama Menara Utara Masjid Damaskus).

Di tahun 706 M, khalifah Al-Walid juga memugar Masjid Nabawi yang sebelumnya tidak ada menara kemudian memiliki dua menara kembar yang berfungsi sebagai tempat muadzin mengumandangkan azan.

Di abad ke-12, menara masjid tidak sekadar sebagai bagian arsitektur masjid saja tapi telah bertransformasi menjadi bagian dari bentuk bangunan sekolah Islam.

Menariknya, bentuk dan gaya berbeda dari menara tersebut ditentukan oleh dinasti yang berkuasa di saat itu. Contohnya, menara tinggi berbentuk segi empat dengan lengkun ornamental serta kisi-kisi menjadi ciri dari arsitektur Al Muwahhidun di abad ke-12. Sedangkan, menara dengan bagian luar spiral seperti Masjid Ahmad bin Thulun adalah ciri khas di masa kekuasaan Abbasiyah di abad ke-19.

Bagaimana dengan masjid di Indonesia?

Masjid di Indonesia memiliki arsitektur yang unik dan beberapa di antaranya mengikuti gaya Eropa. Seperti Masjid Agung Banten yang bentuknya seperti mercusuar dengan gaya Eropa. Berbeda dengan menara Masjid Agung Kudus yang dasarnya meniru bangunan candi di zaman Majapahit, terdiri dari kaki dan tubuh bangunan berjenjang serta pelipit-pelipit mendatar sebagai batas.

Lampu Menara Masjid Menjadi Ikon Visual Tersendiri

lampu menara masjid

Dengan keindahan menara yang mengikuti berbagai arsitektur, penempatan lampu menara masjid pun memperindah tampilan dari bangunan masjid secara keseluruhan.

Sebagai contoh, mari kita lihat Masjid Istiqlal Jakarta. Masjid ini mengusung gaya arsitektur Islam modern. Gaya arsitektur ini bisa dilihat di bagian menara masjid. Berfungsi sebagai tempat muazin mengumandangkan azan, bangunan ini dibangun meruncing ke atas dan memiliki lubang-lubang di bagian dindingnya. Adanya lubang-lubang tersebut untuk bisa mengurangi tekanan dan embusan angin.

Menara masjid ini memiliki ketinggian 66,66 meter dengan diameter lima meter. Tinggi menara ini sebagai simbol dari jumlah ayat yang ada di Al-Qur’an. Di tempat muazin, terbuat dari baja tahan karat seberat 28 ton dengan tinggi 30 meter.

Keindahan menara Masjid Istiqlal ini makin tambah indah dengan hadirnya lampu menara masjid. Pencahayaan dengan menggunakan LED untuk menerangi fasad dengan suhu warna tertentu, seolah mewakili warna dari sinar matahari. Tak hanya itu saja lampu sorot LED yang digunakan menghasilkan cahaya putih berkualitas tinggi. 

Di bagian kubah menara masjid berwarna putih dan di bagian bawahnya berwarna kuning hangat. Sehingga dengan pencahayaan ini, membuat orang yang memandang Masjid Istiqlal akan terasa tenang dan syahdu.

Walaupun tiap menara memiliki desain yang berbeda, tapi bisa disimpulkan dengan adanya lampu menara masjid, membuat bangunan ini tampil makin megah, membawa kedamaian bagi jamaah dan nilai arsitekturnya lebih menonjol. 

Demikian ulasan tentang lampu menara masjid yang menjadi ikon visual tersendiri dan juga melengkapi keindahan bangunan masjid seutuhnya. 

Untuk kebutuhan lampu yang berkualitas dan tahan lama, Dian Pelita sebagai distributor lampu Panasonic, selalu siap menyediakan solusi penerangan yang dapat diandalkan. Dengan lampu dari Panasonic, setiap menara masjid tidak hanya menjadi simbol keagamaan tetapi juga mahakarya seni visual yang memancarkan keindahan dan inspirasi.

Baca Juga: Jenis Produk yang Tersedia di Distributor Lampu Panasonic Jakarta Dian Pelita Indonesia

Leave a Reply